KEBONREJO - Ketika berbicara tentang Kabupaten Kediri, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada kemegahan Gunung Kelud atau Simpang Lima Gumul. Namun, terselip di ujung timur kabupaten ini, tepat di perbatasan dengan Kabupaten Malang, terdapat sebuah mutiara tersembunyi yang menyimpan potensi luar biasa. Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, bukan sekadar desa agraris biasa. Ia adalah perpaduan harmonis antara kekayaan alam vulkanis, tradisi pertanian yang kuat, dan kearifan lokal yang memukau.
Berada di dataran tinggi dengan topografi berbukit, Desa Kebonrejo menawarkan udara sejuk yang jarang ditemukan di dataran rendah Kediri. Artikel ini akan mengupas tuntas potensi wisata Desa Kebonrejo yang kini mulai menggeliat dan siap menyapa dunia.
1. Surga Bagi Pecinta "Si Raja Buah"
Branding utama yang melekat erat pada Desa Kebonrejo adalah "Kampung Durian". Bukan tanpa alasan julukan ini disematkan. Tanah vulkanis hasil erupsi Gunung Kelud (terutama pasca-letusan 2014) telah memberikan berkah kesuburan luar biasa bagi tanaman keras, khususnya durian.
Di desa ini, durian bukan sekadar tanaman pekarangan, melainkan komoditas ekonomi utama. Ribuan pohon durian tersebar di pekarangan rumah warga hingga ke ladang-ladang di lereng bukit. Keunikan durian Kebonrejo terletak pada varietas lokalnya yang legendaris.
Varietas Unggulan: Sabit, Sarti, dan Mutiara
Jika durian Montong dikenal karena ukurannya, durian lokal Kebonrejo dikenal karena **rasanya**. Varietas seperti Durian Sabit dan Durian Sarti memiliki karakteristik rasa pahit-manis yang legit, tekstur daging yang creamy, dan aroma yang menyengat khas durian hutan yang dicari para penikmat sejati. Ada pula varietas Mutiara yang menawarkan daging buah tebal dengan biji yang relatif kecil (kempes).
Musim panen raya biasanya berlangsung antara bulan Januari hingga Maret. Pada periode ini, desa berubah menjadi destinasi wisata kuliner dadakan. Wisatawan dari Surabaya, Malang, hingga Madiun rela menempuh perjalanan menanjak demi merasakan sensasi makan durian jatuhan langsung di bawah pohonnya. Pemerintah Desa pun rutin menggelar Event Jambore Durian sebagai ajang pesta rakyat dan promosi wisata, di mana pengunjung bisa menikmati durian sepuasnya dengan harga yang sangat kompetitif.
2. Jejak Sejarah di Perkebunan Kopi
Nama "Kebonrejo" sendiri berasal dari kata Kebon (Kebun) dan Rejo (Ramai). Sejarah mencatat bahwa wilayah ini dulunya adalah area perkebunan kolonial yang ramai. Jejak sejarah tersebut masih lestari hingga kini melalui komoditas Kopi.
Di dataran yang lebih tinggi, tanaman kopi jenis Robusta dan Arabika tumbuh subur berdampingan dengan pohon penaung. Potensi agrowisata kopi di sini sangat besar. Pengunjung dapat melihat langsung proses budidaya kopi, mulai dari pemetikan biji kopi merah (petik merah), proses penjemuran, hingga penyangraian (roasting) yang masih banyak dilakukan secara tradisional oleh warga. Menikmati secangkir kopi tubruk asli Kebonrejo di tengah hawa dingin pegunungan adalah pengalaman autentik yang menenangkan jiwa.
3. Wisata Alam: Menikmati Lanskap Kelud
Posisi Desa Kebonrejo yang berada di "Ring 1" lereng Gunung Kelud memberikan keuntungan visual yang dramatis. Pemandangan tebing-tebing hijau, hutan pinus, dan aliran sungai berbatu menciptakan lanskap yang Instagramable.
Salah satu potensi wisata alam buatan yang sedang dikembangkan adalah Embung Desa di Dusun Tegalrejo. Awalnya dibangun untuk fungsi irigasi pertanian, embung ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata air. Bayangkan sebuah danau buatan di atas bukit, di mana pengunjung bisa memancing atau sekadar duduk santai menikmati matahari terbenam dengan latar belakang siluet pegunungan.
Selain itu, akses menuju wisata hits Bukit Ongakan dan Bukit Kura-Kura (meski secara administratif beririsan dengan desa tetangga, Besowo) seringkali melewati jalur yang terintegrasi dengan aktivitas warga Kebonrejo, menjadikan desa ini sebagai gerbang wisata petualangan yang strategis.
4. Desa Toleransi: Harmoni dalam Keberagaman
Potensi wisata tidak melulu soal alam, tetapi juga manusianya. Desa Kebonrejo menawarkan wisata budaya dan religi yang menyentuh hati. Desa ini dikenal sebagai miniatur toleransi Indonesia.
Di Dusun Panggungsari, umat Muslim dan Hindu hidup berdampingan secara damai selama puluhan tahun. Pemandangan Pura yang megah berdiri tidak jauh dari Masjid adalah hal yang biasa di sini. Saat perayaan Hari Raya Nyepi, warga Muslim turut menjaga keheningan untuk menghormati tetangganya yang sedang beribadah. Sebaliknya, saat Idul Fitri, warga Hindu turut bersilaturahmi (unjung-unjung).
Bagi wisatawan yang tertarik dengan sosiologi pedesaan atau fotografi human interest, dinamika sosial di Dusun Panggungsari adalah objek yang sangat menarik. Ini mengajarkan kita bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup rukun dalam satu komunitas desa (Village Harmony).
5. Masa Depan dan Pengembangan
Pemerintah Desa Kebonrejo di bawah kepemimpinan Bapak Yoni Widarto menyadari betul potensi besar ini. Berbagai langkah strategis telah dan sedang dilakukan untuk mentransformasi potensi tersebut menjadi kesejahteraan nyata bagi warga.
- Perbaikan Infrastruktur: Betonisasi jalan usaha tani dan jalan poros desa terus dikebut untuk memudahkan akses wisatawan masuk ke sentra-sentra perkebunan.
- Digitalisasi: Peluncuran website desa ini adalah salah satu langkah untuk memperkenalkan Kebonrejo ke dunia luar secara digital.
- Pemberdayaan UMKM: Mendorong ibu-ibu PKK dan pemuda untuk mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah, seperti keripik, selai durian, atau kemasan kopi bubuk premium.
Desa Kebonrejo sedang berbenah. Dari sekadar desa penghasil komoditas mentah, kini bergerak menuju desa wisata terintegrasi. Bagi Anda yang mencari destinasi wisata anti-mainstream yang menawarkan keaslian rasa durian, ketenangan alam, dan kehangatan toleransi, Desa Kebonrejo adalah jawabannya.
Mari berkunjung ke Kebonrejo, rasakan manisnya durian, dan nikmati keramahan warganya.